Rabu, 28 April 2021

TEKNIK PEMELIHARAAN TANAMAN SENGON (Paraserianthes falcataria)

 


Pohon sengon (paraserianthes falcataria) adalah jenis tanaman yang dapat tumbuh di sebaran iklim yang luas, tetapi banyak terdapat di daerah tropis, tingginya bisa mencapai 30 hingga 45 meter. Pohon sengon juga dapat hidup di berbagai kondisi tanah seperti hutan primer, hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, padang rumput, dan bahkan sepanjang pinggi dekat jalan. Pohon sengon memiliki karakter akar tunggang berbentuk bulat tidak berbanir, kulit tidak beralur, berwarna putih dan tidak mengelupas.

 Selain itu, kayu pohon sengon merupakan salah satu bahan yang bagus untuk industry karena kecepatan pertumbuhannya yang baik. Kayu yang dihasilkan dari pohon sengon juga berkualitas, dimana kayunya padat, berserat lurus, agak kasar dan tidak mudah diserang rayap tanah karena kandungan zat ekstraktif dalam kayunya. Ada dua jenis pohon sengon yang memiliki kualitas lebih tinggi daripada yang lainnya, yaitu sengon laut dan sengon putih.

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANAMAN POHON SENGON

Faktor tersebut terdiri dari 2 jenis, yaitu faktor yang dapat dikendalikan dan faktor yang sulit atau bahkan tidak bisa dikendalikan.

1.     Faktor yang dapat dikendalikan antara lain:

·            Bahan tanaman (bibit)

·            Pengolahan tanah

·            Persiapan dan penanaman

·            Pemupukan

·            Perawatan lainnya

·            Alat dan bahan produksi (pestisida, pupuk, dan lainnya)

2.     Faktor yang sulit atau tidak dapat dikendalikan antara lain:

·            Hama dan penyakit terutama penyakit rebah semai, busuk akar, dan karat tumor

·            Iklim yang ekstrim seperti curah hujan, angin, kelembapan, dan intensitas matahari

·            Topografi ekstrim

 

CARA MERAWAT POHON SENGON

1.     Jarak Tanam

Jarak tanam untuk masing-masing tujuan produksi kayu sengon berbeda-beda. Berikut adalah daftarnya:

·            Kayu pulp: jarak tanam 3 x 3 meter

·            Kayu pertukangan: jarak tanam 6 x 6 meter pada lahan subur

·            Kayu bulat premium: jarak tanam 10 x 1 meter

·            Monokultur: jarak tanam 2 ½ x 3 meter untuk 1,7 batang/Ha atau jarak tanam 3 x 3 meter untuk 1 hingga 1,2 batang/Ha

·            Tumpangsari: jarak tanam 5 x 5 meter untuk 400 batang/Ha atau Jarak tanam 3 x 6 meter untuk 555 batang/Ha

2.    Penyulaman

Kegiatan penyulaman merupakan penggantian bibit sengon yang mati atau rusak dengan bibit baru. Biasanya penyulaman dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada penanaman setelah 2 – 4 minggu dan setelah 1 tahun. Biasanya penyulaman dilakukan pada pagi hari atau saat musim hujan. Sebaiknya, bibit baru yang digunakan untuk penyulaman memiliki umur yang sama supaya pertumbuhan bibit tetap seragam

3.     Penyiangan

Penyiangan adalah kegiatan pengendalian tanaman penggangu seperti gulma dan alang-alang dengan cara menghilangkan atau memotongnya. Penyiangan bisa dilakukan dengan tangan atau dengan herbisida dengan dosis yang sesuai.

4.    Pemupukan

Pemupukan merupakan faktor yang penting sebagai salah satu cara merawat pohon sengon berumur 1 tahun agar cepat besar.

·            Sampai sengon berumur 1 tahun

Pemupukan dilakukan 2 bulan sekali dengan menggunakan pupuk npk/phonska dengan dosis 30 gram per tanaman. jangan sampai tanaman kekurangan unsur npk. caranya dengan menggali lubang melingkari batang pada batas terluar pohon, beri pupuk pada lubang, dan timbun kembali.

·         Saat sengon berumur 2 tahun

Pemupukan dilakukan dengan jarak waktu yang diperpanjang. pupuk dilakukan setiap 4 bulan sekali dengan pupuk npk/phonska dengan dosis 50 gram per tanaman. pupuk diberikan dengan membuat lubang melingkari batang dengan jarak 1,5 meter dari batang lalu tutup kembali dengan tanah.

·          Saat sengon berumur 3 tahun

Pemupukan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan pupuk npk/phonska dan dengan dosis 100 gram per tanaman.

·           Setelah berumur lebih dari 3 tahun

Pupuk diberikan setiap setahun sekali dengan takaran 200 gram per tanaman. pupuk yang digunakan berupa npk/phonska.

 5.    Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan supaya pohon terbebas dari cabang dan memudahkan pemanenan. Selain itu, pemangkasan berguna untuk mengurangi penyakit jamur. Pemangkasan dilakukan pada pohon yang sudah berumur 1 tahun dan dilakukan setiap seahun sekali. Gunakan gergaji yang tajam supaya tidak merusak kayu utama. Saat melakukan pemangkasan, jangan sisakan cabang sama sekali karena akan mengakibatkan cacat pada kayu dan hindari pemangkasan hingga kulit kayu terkelupas. Pemangkasan dihentikan ketika pohon yang bebas cabang sudah memili tinggi lebih dari 6 meter.

6.    Penjarangan

Penjarangan adalah tindakan menebang pohon bertujuan menurunkan kerapatan tanam untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih bagi tanaman yang disisakan. Pada umur 2 atau 3 tahun menyisakan 600 pohon/Ha, akan diperoleh kayu hasil penjarangan dengan diameter 15 cm. Pada umur 4 tahun, akan diperoleh kayu hasil penjarangan dengan diameter 20 cm, menyisakan 400 pohon/Ha. Penjarangan dilakukan dengan sistem selektif sistematik dan kriteria tanaman yang dijarangi yaitu yang pertumbuhannya tidak baik atau terserang hama penyakit.

Jumat, 26 Maret 2021

CARA MENGENDALIKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KUNYIT

 

 

Curcuma longa atau kunyit (kunir) merupakan salah satu tanaman rempah-rempah dan tanaman obat asli dari daerah asia tenggara dan kemudian menyebar ke daerah indonesia, malaysia, australia bahkan sampai ke daerah afrika.

Tanaman ini biasa dimanfaatkan sebagai bahan masakan atau pemberi warna kuning pada masakan dan bisa juga dijadikan sebagai bahan pengawet. Selain itu, tidak sedikit yang menjadikan sebagai obat.

Oleh karena pemanfaatan kunyit dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam, terutama pada daerah Asia Tenggara, membuat tanaman kunyit menjadi salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan.

Akan tetapi tanaman ini sama halnya dengan tanaman lain. Pada saat proses pembudidayaannya, tanaman kunyit tidak bisa luput dari serangan berbagai jenis hama dan penyakit yang membuat tanaman kunyit rusak atau bahkan mati. Serangan-serangan yang ditimbulkan dapat berakibat pada kualitas yang dihasilkan oleh tanaman.

 

 

Berikut ini hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman kunyit sekaligus cara mengatasinya :

 1.  Ulat Penggerek (Dichcrosis Puntifera)

Untuk jenis hama pada tanaman kunyit selama yang satu ini diketahui hanya terdapat satu jenis yaitu Ulat penggerek akar atau Dichcrosis puntifera. Tanaman kunyit yang terserang oleh hama jenis ini akan memperlihatkan tanda atau gejala pada pangkal akar tunas daun yang menjadi menjadi layu, bila hal tersebut dibiarkan tanpa adanya perawatan maka akan mengakibatkan tunas mengering lalu membusuk.

Cara Pengendaliannya

Untuk mengendalikan hama jenis inielakukan sanitasi lahan secara rutin agar lahan steril dari serangan. Bila serangan yang terjadi sudah tak terbendung, pembudidaya bisa mengatasinya dengan cara meenyemprotkan insektisida furadan G-3 secara berkala atau dengan cara memilih bibit tanaman kunyit yang memiliki tahan terhadap serangan hama.

 

2.  Layu Bakteri Ralstonia (Solanacearum E.F Smith)

Penyakit jenis ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini bisa terlihat pada daun tua yang menguning dan kemudian menggulung jauh sebelum masa panen tiba, bila hal ini dibiarkan seluruh daun termasuk daun muda akan mengikuti proses penguningan dan layu sampai seluruh daun akan mati.

Adapun gejala lain yang dapat dilihat adalah pada bagian pangkal terlihat cekung basah dengan garis hitam atau abu-abau sepanjang batang yang jika anda tekan dengan tangan akan mengeluarkan lendir yang berwarna putih seperti susu.

Cara Pengendaliannya

Untuk mengendalikan penyakit jenis ini dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase tanah atau menanam bibit tahan penyakit. Sementara, untuk mencegah penyebaran, buanglah tanaman yang tertular dan musnahkan jauh dari lahan tanaman tersebut.

 

3. Busuk Akar Rimpang

Penyakit busuk akar  ini disebabkan oleh bakteri Sclerotikum rolfsii Sacc. Gejala yang ditimbulkan dapat terlihat pada bagian kulit akar keriput serta tunas-tunas muda yang membusuk serta mengering dan berwarna coklat kehitaman.

Hal ini sangat jelas terlihat pada bagian permukaan kulit yang keriput berupa miselium jamur tipis yang berwarna putih seperti berbulu. Apabila hal ini dibiarkan maka pada akar tanaman akan membusuk dan bisa menyebabkan kematian pada tanaman.

Cara Pengendaliannya

Dapat dikendalikan dengan perbaikan drainase tanah dan menanam bibit yang tahan penyakit, atau dapat juga dengan menyemprotkan fungisida pada tanaman yang tertular.

 

4. Karat Daun

Penyakit ini disebabkan oleh organisme puccinia sp. Gejala yang timbul akibat serangannya dapat terlihat pada bagian daun yang terdapat bintik-bintik berbentuk bulat berwarna coklat kehitaman yang berukuran 1-6 mm, dengan jaringan yang berwarna coklat kekuningan mengelilinginya.

Gejala lain juga dapat dilihat pada permukaan bawah ditemukan butir-butir halus berwarna kuning yang merupakan uredospora cendawan. apabila hal ini dibiarkan akibatnya bisa menyebabkan kematian pada tanaman dan menggagalkan panen pada serangan yang besar.

Cara Pengendaliannya

Untuk mengendalikan serangannya dapat dilakukan dengan cara mengatur kelembaban lingkungan tanam.

 

5. Bercak Daun

Penyakit bercak daun disebabkan oleh serangan organisme colletotrichun capsici. Gejala yang ditimbulkan dapat terlihat dengan bercak yang berukuran 4-5 cm didaun.

Ciri-ciri gejala ini antara lain, bagian pinggir bercak tidak beraturan dan dikelilingi garis berwarna kekuningan dengan bagian tengah yang kering, semakin lama bintik hitam yang muncul akan menyerupai bentuk cincin dan apabila hal ini biarkan maka akan menyebabkan kematian pada daun.

Cara Pengendaliannya

Dapat dikendalikan dengan penanaman benih dari induk sehat, dapat pula dengan penggunaan fungsida atau cairan kapur bordo selama 4-7 hari hingga tanaman terlihat.