Selasa, 24 Oktober 2023

PEMBANGUNAN SMALL GULLY PLUG (SGP) SECARA SWADAYA DI DESA PAGERUKIR KEC. SAMPUNG KAB. PONOROGO SEBAGAI UPAYA REHABILITASI LAHAN

 

 

Daya dukung lingkungan terutama Daerah Aliran Sungai (DAS) semakin menurun seiring dengan meningkatnya pola-pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat yg kurang tepat, tidak mengikuti kaidah konservasi tanah dan air. Keadaan ini menjadi salah satu penyebab lahan kritis terutama di kawasan budidaya yang berfungsi lindung dan berdampak memicu bencana banjir, longsor, dan kekeringan.

Konservasi Tanah dan Air salah satu upaya pelestarian alam yang pada dasarnya ditujukan untuk pengendalian proses erosi dan sedimentasi serta untuk memelihara keberadaan dan ketersediaan air sesuai fungsi dan manfaatnya. Prinsip yang diperlukan dalam konservasi tanah dan air dengan metode sipil teknis adalah :

1. Mengusahakan agar kapasitas infiltrasi tanah tetap besar sehingga jumlah aliran permukaan dapat dikurangi

2. Mengurangi laju aliran permukaan sehingga daya pengikisannya terhadap permukaan rendah dan material yang terbawa aliran dapat diendapkan

3. Mengatur kemiringan lereng/alur/sungai guna  mengurangi kecepatan aliran sehingga, mengendalikan laju sedimen

 


 

Kegiatan Peningkatan Peran serta  masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan telah di laksanakan di Desa Pagerukir Kec. Sampung Kab. Kabupaten Ponorogo oleh KTH Argo Pager Gumolong Lestari dengan membuat bangunan Small Gully Plug (SGP)  sebanyak 2 Unit dengan sumber Anggaran dari Swadaya Masyarakat dan Pemerintah Desa. Kegiatan pembuatan bangunan Small Gully Plug (SGP) dimulai Bulan Agustus dan selesai bulan Oktober 2023.  

Small Gully Plug (SGP) adalah bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat bronjong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam sehingga bahaya tanah longsor dapat di hindarkan.

Tujuan di bangunnya gully Plug di Desa Pagerukir Kec. Sampung Kab, Ponorogo adalah untuk memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang yang semakin besar sehingga erosi dan prose sedimentasi terkendali.

Oleh karena itu maka pembangunan Gully Plug tentu sangatlah penting untuk menjaga agar kondisi lahan tetap terjaga. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun gully plug yaitu

a)    Lahan dengan kemiringan 30%

b)    Daerah dikategorikan sebagai lahan kritis

c)    Daerah tangkapan air minimum 10 hektare

d)    Lebar kedalaman parit/jurang sebesar 3x3 meter

e)    Panjang parit/jurang sebesar 250 meter

f)     Kemiringan parit/jurang sebesar 5%

Semoga dengan terlaksanannya pembangunan 2 Unit Small Gully Plug di Desa Pagerukir Kec. Sampung Kab. Ponorogo dapat memberikan banyak manfaat dalam hal :

1.    Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit

2.    Mencegah bertambah luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya jurang/parit yang semakin lebar

3.    Mengendalikan erosi dan lumpur, endapan, serta air dari daerah atas sehingga dapat mengendalikan hilir dari sedimentasi dan banjir 

4.  Memperbaiki kondisi tata air di sekitarnya 


 
 







Jumat, 28 Juli 2023

KEGIATAN DEMONTRASI CARA DENGAN TEMA CARA MENURUNKAN KADAR AIR DAN MENGETAHUI KADAR GULA PADA MADU DI KTH TELAGA LESTARI DESA NGEBEL KEC. NGEBEL KAB. PONOROGO PADA TANGGAL 21 JULI 2023

 

 


Pada hari Jumat telah di laksanakan kegiatan demontrasi cara di Kelompok Tani Hutan Telaga Lestari Desa Ngebel Kec. Ngebel Kab. Ponorogo dengan topik cara menurunkan kadar air dan mengetahui kadar gula dalam madu. Tujuan kagiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan dan ketrampilan penyuluh kehutanan dan anggota kelompok tentang cara menurunkan kadar air dan mengetahui kadar gula dalam madu. Kegiatan demontrasi cara di ikuti oleh 20 Peserta dengan Narasumber Bapak Mujiono.

Madu adalah hasil hutan bukan kayu yang lumayan banyak di hasilkan oleh petani hutan yang ada di Kabupaten Ponorogo. Dalam rangka peningkatan kualitas madu dalam segi penurunan kadungan kadar air dan mengetahui persentasi kadar gula pada madu perlu diadakan kegiatan demonstrasi cara tentang teknik mengetahui kadar air dan kadar gula pada madu

Madu mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu bukan hanya merupakan bahan pemanis, atau penyedap makanan, tetapi sering pula digunakan untuk obat-obatan. Madu dihasilkan oleh lebah madu dengan memanfaatkan bunga tanaman. Madu memiliki warna, aroma dan rasa yang berbeda-beda, tergantung pada nektar jenis tanaman. Madu Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi sehingga rentan terhadap fermentasi. Salah satu cara pencegahannya adalah menurunkan kadar air madu.

 

1.  Kadar Air Pada Madu

Pengurangan kadar air madu bertujuan untuk meningkatkan mutu madu. Selain itu, pengurangan kadar air juga berakibat meningkatnya viskositas sehingga madu tidak mudah terfermentasi. Fermentasi madu dalam kemasan pada jangka waktu yang lama dapat merusak kemasan (pecah) dan juga mengakibatkan perubahan sensori serta menurunkan kandungan gizi dalam madu yang mengakibatkan penurunan kualitas madu.

Penurunan kadar air pada madu dengan cara mengevaporasikannya di bawah tekanan atmosfir agar kandungan air di dalam madu mencapai titik temperatur evaporasi yang rendah, sehingga tidak memecah struktur enzim pada madu.



Gambar 1. Alat evaporator

 

Evaporator merupakan alat yang berfungsi sebagai penurun kadar air pada suatu larutan. Prinsip kerja yang digunakan pada mesin evaporator yaitu dengan memanaskan suatu larutan sehingga memisahkan bahan dengan air melalui proses penguapan. Prinsip kerja dehidrator vakum adalah penurunan kadar air madu dalam wadah vakum dengan menggunakan temperatur tinggi yang terkontrol (dapat diatur temperatur dan waktu pemanasannya) (Hadisoesilo, 1986). Selain untuk menurunkan kadar air, pemanasan madu juga dapat membunuh khamir penyebab fermentasi (Townsend, 1979). Pengeringan pada madu memanfaatkan panas dengan temperatur konstan maksimal 40oC, panas yang cukup tinggi yaitu lebih dari 40oC dapat merubah struktur enzim yang mengakibatkan penurunan kualitas madu. Bahan yang digunakan dalam kegiatan demonstrasi cara ini adalah madu asli dengan massa 5 kg dimasukkan ke dalam tabung evaporator dan diberi pemanas selama 2 jam. Dari hasil tersebut di peroleh penurunan massa sebesar 383 gram. Pengukuran kadar air madu setelah melakukan pengujian dengan metode gravimetri dengan rumus :

Dari rumus diatas, penurunan kadar air pada madu yang digunakan sebesar 7,66%.

 

2.  Kadar Gula pada Madu

Madu yang baik harus dapat memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Standar Industri Indonesia (SII) tahun 1977 dan 1985. Kadar yang sesuai dengan standar SII hanya mungkin terdapat pada madu murni, yaitu madu yang belum diberi campuran dengan bahan-bahan lain. Standar mutu madu salah satunya didasarkan pada kandungan gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) total yaitu minimal 60 %. Sedangkan, jenis gula pereduksi yang terdapat pada madu tidak hanya glukosa dan fruktosa, tetapi juga terdapat maltosa dan dekstrin. Sementara itu proses produksi madu oleh lebah itu sendiri merupakan proses yang kompleks, sehingga kemungkinan besar terjadi perbedaan kadar dan komposisi gula pereduksi di antara berbagai jenis madu yang beredar di masyarakat.


Gambar 2. Kadar gula sebelum perlakukan penurunan kadar air pada madu

 


Gambar 3. Kadar gula sesudah perlakukan penurunan kadar air pada madu

Madu yang digunakan sampel dalam uji kadar gula pada madu sama dengan sampel madu yang digunakan dalam uji penurunan kadar air. Pengukuran kadar gula dilakukan pada madu sebelum dan sesudah proses penurunan kadar air dengan menggunakan alat evaporator. Sebelum proses penurunan kadar air, gula reduksi yang terkandung dalam madu sebesar 75,6% dan sesudah proses penurunan kadar air, gula reduksi yang terkandung dalam madu sebesar 78,4%. Pengujian dilakukan dengan alat refraktometer. Refraktometer adalah sebuah alat yang biasa digunakan oleh peternak lebah, Badan Pengujian Mutu Barang dan produsen pengemasan madu untuk mengukur kadar air madu. Secara teknis, refraktometer mengukur indeks bias suatu zat.